THE PLUVIOPHILE

The Rain's Lover

Kuldesak


Sejenak dada menyesak
Tak hadirkan detak
Sebab rindu hebat menghentak
Tak kuasa melawan angan beriak


Sememangpun arah tak tertebak
Dilingkaran waktu kian terjebak
Menua dan terus terdesak
Namum rasa yang kau beri tiada tertolak


Maka biarkanku sesuka rindu bersajak
Entah tentang waktu yang masih berjarak
Atau tentang kita yang masih tak beranjak
Hingga satu temu pada sebuah kuldesak
READMORE
 

Into The Deepper Fiction


Maaf jika Aku mencintaimu dan masih, dan hanya memberi arah tuju yang tak pasti dalam peta rahasia kita.
Kini ratusan hari telah beranjak dan menjadi beberapa kenangan, sebagiannya tak urung pernah memberikan lembab yang berlebih pada kedua netraku.

Seringkali disini, saat saat kau hilang dari berita, aku merasakan sepi nan tak terperi, lalu aku berusaha mengelabuinya dengan mendengarkan beberapa lagu kesukaan kita, ataupun dengan mengingat ingat beberapa nama panggilan kita, Akupun tersenyum dan sesekali tertawa sendiri, tapi tetap saja aku tak mampu mengingkari sepi.

Entahlah, mungkin suatu hari kita bertemu pada sebuah jalan, namun hanya untuk melanjutkan perjalanan kita yang berlainan arah, akan sempatkah kau menoleh lalu tersenyum, atau memperlihatkan airmata yang kau tahan saat itu?, sedangkan aku berencana untuk tidak mencintai siapa siapa lagi.

Akh biarlah, itu urusan nanti, yang jelas kefiksian yang indah ini lebih terasa menjadi nyataku, membuatku enggan terbangun, enggan beranjak, namun sampai bilakah kau kan temaniku disini? akankah kau kan bosan dengan segala senandung rinduku?
Yang jelas aku menikmati segala rasa yang ada ini.
READMORE
 

Entah



Mungkin beberapa mimpi hanya akan tetap menjadi mimpi, atau hanya sekedar berubah nama, namun keajaiban masih tetap kunanti.
Bilapun tiada mendatang, ragaku mungkin kan berpindah tempat, tapi tidak jiwaku.
READMORE
 

Perindu Jelata

Rindu...
Kali ini aku lebih ingin merasakan tiap tiap degupnya
Tiap tiap gebunya
Sedangkan kata kata
Kutitipkan saja pada rembulan yang urung purnama
Meski bagi langit malam, aku hanya anak tiri yang terlahir dari rahim sang Selir kegelapan
Aku tiada bertahta
Tak mampu bertitah
Aku hanya perindu jelata dengan rindu yg Eksklusif
READMORE
 

Rekayasa Imaginasi

Tempat tempat dimana kita pernah bertemu tanpa sengaja, Angin, mungkin juga gerimis yang tak sempat kita ingat. Ada juga tentang debu debu yang hinggap di sepatumu. Oh iya, buku buku yang kau dekap dengan seragam pramuka, tentu juga sepasang matamu yang belum memakai kacamata, sempat kutangkap dengan kedua mataku.

Semua kini di angan, melengking seperti suara embun2 kala subuh yang ingin kembali pada Matahari, setiap hari. Untung saja matahari tak pernah jenuh, seperti anganku yang tak pernah jera mengulang ulang semua ingatan tentangmu.

Seringkali disini, saat malam yang cerah, Kamu, Aku dan sebuah sepeda kuilustrasikan dengan rasi rasi bintang, melaju dari desaku menuju kotamu, perlahan tapi pasti, seperti nafasku yang menghela rindu.
READMORE
 

Residivis Rindu

Kita telah cukup lama disini, menjadi Perindu di ruang ungu. Pernahkah kau tiba tiba tergagu karena rindu, seperti gaguku saat ini, tanpa kamu?

Aku tau kita takkan sering bertemu seperti saat dulu. itu sebab aku tak lelah membicarakanmu dalam jejak jejak pena, sambil merungu lagu lagu favorit kita, ataupun sambil merunut manis wajahmu.

Bersambung.......
READMORE
 

SHEPIA


Aku pernah bersembunyi dari Angin
Sesekali mengelabui matahari

Hanya untuk mencari ruang nyaman 
Untuk hatiku yang kau biarkan dekat dengan hatimu


Ada beberapa mata mencurigai desah nafasku
Ingin mengorek
Merobek
Tirai Ungu lain dunia kita


Tetapi waktu telah mengajariku menjadi penipu ulung
Membuatku lihai berganti warna
Berganti nama
Ksrena aku belum bisa menipu hatiku sendiri


Meski tabu
Tapi telah selirkan rindu 
Menjelagai Makhraj cinta
Salahkah?
READMORE