Tempat tempat dimana kita pernah bertemu tanpa sengaja, Angin, mungkin juga gerimis yang tak sempat kita ingat. Ada juga tentang debu debu yang hinggap di sepatumu. Oh iya, buku buku yang kau dekap dengan seragam pramuka, tentu juga sepasang matamu yang belum memakai kacamata, sempat kutangkap dengan kedua mataku.
Semua kini di angan, melengking seperti suara embun2 kala subuh yang ingin kembali pada Matahari, setiap hari. Untung saja matahari tak pernah jenuh, seperti anganku yang tak pernah jera mengulang ulang semua ingatan tentangmu.
Seringkali disini, saat malam yang cerah, Kamu, Aku dan sebuah sepeda kuilustrasikan dengan rasi rasi bintang, melaju dari desaku menuju kotamu, perlahan tapi pasti, seperti nafasku yang menghela rindu.
