Tiba tiba langit mengirimkan bau hujan, membuatku tergesa gesa merapikan kenangan, dan sudah pasti kenangan yang belum pernah terjadipun ikut serta, mungkin itu adalah sebagian kenangan masa depan yang terilhami rindu yang tak urung sesakkan dada.
Seringkali disini, saat aku harus kembali bersembunyi dalam sepi, sunyi ataupun hening, aku merafalkan kalam kalam rindu, bercerita pada gambarmu yang kerap mengajakku berbicara lantaran tersentuh ilusi, sesekali aku mengajaknya tertawa dengan tawa tawa yang masih terekam di pucuk rindu dari percakapan percakapan kita,, Ooooh, bilakah lagi kudengar suara dan gelak tawamu?
Aku mulai mengantuk, mataku mulai menyipit dan layu, namun masih ada kamu mengusik kedua retinaku, yang memaksaku bernyanyi-nyanyi lirih yang kupadukan dengan suaramu, berharap kan terbawa mimpi dan menyisakan senyum kecil saat terbangun nanti.
