Saat itu, aku datang dari musim luruh yg panjang diantara dua musim panas yg absurd
saat tak jua kudapati hangat dari ketiak sang waktu
Lalu ku hampiri Nurmu
Mencoba mencuri teduhmu
Tapi Kau Sang Pujangga
Sedang Aku Si Naif
Pernah harus mati berkali kali di ujung jemarimu
tanpa pernah ku tau apakah aku pernah hidup dihatimu
Tapi seiring do'a-do'a kecil yg tak pernah lelah menyambangi langit
Kau beri isyarat
Nyalakan lampu dihatiku
Adakah kita sepasang kekasih sejati yg tertunda kemarin
Yang ingin merebut kembali tempat dan waktu kita di hari esok ??
Kita tak menjawab
Hanya saja Do'a demi do'a tak henti
Bersama membujuk taqdir dalam sunyi
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)