aku tak perlu mengusik mayat,
atau membaca mantra mantra Jelangkung,
atau bahkan membubuhinya Monosodium Glutamate. . .
Ini bukan tentang 1001 puisi prahara para pedagang panci,
Bukan pula tentang ludah para bidadari yg sempat menempel pada kulit2 domba domba kudisan. . .
Ini hanya tentang aku dan diriku sendiri,
yg betapa sangat ingin aku kau membacanya dalam hujan,
panas,
basah,
kering,
depan,
belakang,
bawah atau atas,
Namun tak bisa berubah kata atau rasa,
Aku tetap bernama RINDU. .
Aku ingin menjadi PALINDROME SEMPURNA
Ini bukan tentang 1001 puisi prahara para pedagang panci,
Bukan pula tentang ludah para bidadari yg sempat menempel pada kulit2 domba domba kudisan. . .
Ini hanya tentang aku dan diriku sendiri,
yg betapa sangat ingin aku kau membacanya dalam hujan,
panas,
basah,
kering,
depan,
belakang,
bawah atau atas,
Namun tak bisa berubah kata atau rasa,
Aku tetap bernama RINDU. .
Aku ingin menjadi PALINDROME SEMPURNA
Perlu buka buku tafsir terjemah puisi untuk memahami puisi ini.
BalasHapusDan...benarlah. Penyair memiliki ego-tafsir atas satu kata, kalimat, bait dst.
Menariknya, ketika sudah menyembul ke permukaan, ego itu melebur menjadi multi tafsir (Tergantung kedalaman pemahaman pembacanya).
Dan buat saya pribadi, makna pedagang panci -contohnya- tetap milik sang empunya penulis.
Hehe, jangan berlebihan gtu dong, semua ini hanya sekedar celoteh tak berarah :)
Hapus