The Rain's Lover

Masih Kamu

Aku telah memberimu begitu banyak nama, memanggilmu sesuka rindu, namun tetap untuk satu wajahmu tersimpan di hati, tak terganti.


Boleh saja angin memberiku seribu sepoi, ataupun malam merayuku dengan jejak manis seribu pena, namun aku takkan berpaling dari riuhmu di dada kiriku.


Kau lebih dari sekedar hangat untuk luruhku, Kau lebih dari sekedar eksotisnya setengah mentari di ujung laut kala senja yang akan habis.
Bodohkah aku?

Hanya saja aku ingin simpuhkan maaf dipangkuanmu, 
karena telah membawamu jauh larut dalam ungunya kefiksian ini.
READMORE
 

Kita Dan Hujan

Menjelma Lagi dalam Kata Rindu
Sebuah Proses Reingkarnasi menafsir Pagi yg sempat gusar menanti senyummu kembali...
Benarkah adanya Kau kan disampingku ??
seperti Ujarmu...
sedangkan betapa Kita tau, bahwa Inilah satu2nya Fiksi yg begitu absurd untuk ditembusi...
Meski mungkin merenungi jauh bola matamu itu sempat kan kunikmati dalam Nyata,
Tapi Mungkin Hanya aku seorang yg kan Menunggu Hujan itu,
Lalu gerimis
Dan Reda,
Tapi Pelangi mungkin hanya untuk ditatapi saja,
Kurasa itu cukup...
tapi entah ..
yg jelas kaupun sempat Berandai andai Dalam Hujan itu..
READMORE
 

The Two Braids Girl



Semalam gerimis datang
Lalu beberapa degup saja dari kerinduan
sesimpul senyum datang mewangi
Menyambangi dunia khayal dan bathin

Langut...
Memaksa sebuah ingatan kembali lagi ke masa lalu
Aku melihat engaku menapaki jalan menurun
Masih berseragam Pramuka dengan rambut berkepang duamu

Lalu kaupun hilang
Di balik rumah pedagang serabi itu

Menyisakan senyum mungil di bibirku
Lalu,,
akh,,
Entah,,,

Kini kita begitu jauh dari waktu dan jarak
Tak terthitung berapa rembulan telah penuh ataupun menyabit
Hanya mampu mencatat
Menyambung Klausa klausa yang pernah patah.......






READMORE
 

Mistikus Hujan

Ingin kutulis sebuah puisi seindah dan sesempurna mungkin, namun apa daya aku bukan penyair, aku hanya seorang perindu yang kosong, namun terisi dirimu. Tentu saja ini tentang rasa yang hanya kembali kepada diriku sendiri, meski aku telah dan akan meminjam beberapa isi bumi dan langit untuk mengutarakannya, dari cuaca hinggalah bongkahan bongkahan batu terapung diangkasa, salahkah aku?. O iya, bahkan Pohon Sentul (aku tidak tau apa bahasa Indonesianya)pun ikut serta merindangi semesta cerita ini.

Tiba tiba langit mengirimkan bau hujan, membuatku tergesa gesa merapikan kenangan, dan sudah pasti kenangan yang belum pernah terjadipun ikut serta, mungkin itu adalah sebagian kenangan masa depan yang terilhami rindu yang tak urung sesakkan dada.

Seringkali disini, saat aku harus kembali bersembunyi dalam sepi, sunyi ataupun hening, aku merafalkan kalam kalam rindu, bercerita pada gambarmu yang kerap mengajakku berbicara lantaran tersentuh ilusi, sesekali aku mengajaknya tertawa dengan tawa tawa yang masih terekam di pucuk rindu dari percakapan percakapan kita,, Ooooh, bilakah lagi kudengar suara dan gelak tawamu?

Aku mulai mengantuk, mataku mulai menyipit dan layu, namun masih ada kamu mengusik kedua retinaku, yang memaksaku bernyanyi-nyanyi lirih yang kupadukan dengan suaramu, berharap kan terbawa mimpi dan menyisakan senyum kecil saat terbangun nanti.









READMORE
 

PERIKARDITIS



Sebelum aku memulai coretan ini, aku sempatkan diri dulu melihat senyum manismu pada sebuah foto yang terakhir kali kau kirim, seolah dia berbicara pada kegaguanku, pada sepi ini.
Lalu aku memutar lagu The Moffats di atas, hanya untuk membuat kefikisan ini terasa lebih nyata, menafikan segala kenyataan yang ada. 

Teringat...
Lagu ini kau putar saat aku menelponmu dari kejauhan ini, membawaku pada suatu waktu ketika dulu, saat saat kau memberikanku selembar puisi "Hilangnya sebuah harapan/The Missing Hope" untuk diterjemahkan kedalam bahasa inggris.


Malam itu, lunak lunak suaramu menyatu bersama udara, lalu luruh menjadi bait bait puisi, seperti gugur gugur daun daun sakura dengan sedikit salju, terlintas ingin dihatiku agar fasih bermain gitar, lalu menyanyikan lagu ini bersama sama nanti, Ohhhh,, sepertinya Jauh panggang dari api.


Kini waktu melaju dengan cepatnya, dari malam malam yang berbintang, berbulan, hingga pada pada pagi pagi yang bermentari, bergerimis, anganku selalu tertuju dan ingin melekat begitu lekatnya dengan jiwamu, bahkan ketika aku pernah mencoba meniti cinta yang lain, Kaupun tau itu.


"Sepertinya tak cukup hanya sekedar mencatatmu, seperti Awan dan Hujan, Sebuah angan kini sedang menyambangi kotamu" tidakkah kau rasa?








READMORE
 

Denting Dawai Rindu

Seperti malam yang kehilangan bulan
Tanpa bintang
Tanpa orkestra suara suara binatang binatang malam
Sepi sekuntum sakura

Lalu lirih
berdenting dawai rindu
Menguap sebagai do'a-do'a sunyi
Meraba langit

Lekaslah kembali
Temani aku disini
Indahkan segala kefiksian ini
Menghitung hari hari yang masih tak menentu

Mungkin November takkan kita jelang
Tapi masih ada gerimis dilain hari
Kita masih bisa berbalas puisi
Melalui mata bertentang diantara sela sela angin yang kecil




READMORE
 

Rindu Harus Di Catat

Rindu Harus dicatat
Sebab Tulisan adalah Ingatan kedua saat kita menua bersama
sebab Jika sebatas suara tanpa direkam, apalah artinya
Dia akan hilang seiring ingatan yg semakin tak padu



Betapa kita tau dan mengingat Kisah Romeo da juliet
Rama dan shinta
Khais dan Laila
Adalah dari tulisan
Tanpa harus kita hidup bersama pada musimmusim cinta mereka

Rindu Harus dicatat
Karena Tulisanlah yg mengekalkan sejarah
Bahkan Mungkin hingga seumur Bumi

Sedangkan Indah atau tidaknya catatan kita
Itu tergantung Niat dan amal perbuatan
hehehe

Rindu harus dicatat
Catat itu !!!
:) :) :)
READMORE